Senin, 23 November 2015

Chapter 2

CHAPTER 2
TEKA-TEKI, SUNTIKAN SAYANG, DAN HARAPAN ME DIUSIA 4 TAHUN


        Dua tahun bersama Simbah dan Budhe (yang dipanggil Mak Tuti oleh Pesek sampai sekarang) Pesek tumbuh menjadi batita yang lucu, punya rasa keingintahuan yang tinggi dan pintar. Hal ini terlihat dari kemampuan Pesek dalam cara ngomong, cara bertingkah, dan cara merespon sesuatu. Banyak  keingintahuan Pesek yang masih menjadi teka-teki dalam pikirannya. Salah satunya, rasa ingin tahu “kenapa dia hanya bisa bersama Mom di malam hari saja dan kenapa sering di panggil Pesek oleh orang-orang”. Teka- teki yang belum terjawab oleh siapa pun. Karena dalam sehariannya Pesek bersama Mak Tuti, Pesek pasti akan meminta jawaban dari teka-tekinya kepada Mak Tuti. Sebagai salah satu sosok pengganti Mom, Mak Tuti harus menjawab dan menjelaskan beberapa teka-teki Pesek.  Mak Tuti berusaha membuka teka-teki sekaligus sebagai jawaban yang mendidik untuk Pesek. Satu per satu jawaban diberikan “kenapa Pesek hanya bersama Mom malam hari karena Mom mencari uang untuk biaya hidup dan menabung untuk persiapan biaya sekolah kamu Nak”. “kenapa orang-orang memanggil kamu Pesek karena hidung kamu Nak, hidung kamu yang membuat mereka memanggil kamu seperti itu, jangan bersedih Nak, jadikanlah semua itu panggilan sayang dari orang-orang”. Mereka bukan mengejek kamu Nak, buktikan ke mereka Nak suatu saat nanti mereka akan membiracakan kamu bukan karena hidung kamu lagi tetapi karena kepandaianmu dan keberhasilanmu membanggakan Mom dan sesama, tegas Mak Tuti. 
Salah satu suntikan sayang Pesek adalah kasih sayang dari orang-orang terdekatnya saat itu. Orang- orang yang berhasil memberikan suntikan sayang pada Pesek adalah Mak Tuti, Simbah, dan Mbak Ika. Mengapa harus suntikan sayang? Karena  merekalah yang merawat, menemani serta menjaga Pesek. Mak Tuti mendidik dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri. Karena waktu itu Mak Tuti juga punya anak kecil, umurnya setahun lebih tua dari Pesek, anak perempuan Mak Tuti bernama Ika. Mbak Ika lebih tepatnya panggilan dari Pesek, Simbah dan Mak Tuti selalu memberikan kita sesuatu yang sama, mulai dari baju dan potongan rambut. Tak heran banyak yang menyebut kita anak kembar, padahal jauh berbeda. Apalah artinya perbedaan dibandingkan dengan banyaknya persamaan. Bukankah kita sama-sama membutuhkan sesuap nasi tanak dan seteguk air segar dan ASI demi memenuhi lapar dan dahaga?. Kita juga sama-sama menangis di kala sedih dan tertawa di saat gembira. Kita sama-sama gemetar sewaktu ketakutan melanda serta tergelak ketika kegembebiraan menerpa. Kita sama - sama berkeringat di bawah terik matahari dan menggigil di kala dingin menelan. Tidakkah kita melihat begitu banyak persamaan di antara kita.  
Si kembar (Pesek dan Mbak Ika) setiap hari bermain bersama. Walaupun mereka bukan saudara kandung, mereka begitu akrab. Saking akrabnya Pesek selalu jadi bulian Mbak Ika. Hampir tiap hari terdengar suara tangisan, tahukah tangisan siapa? Siapa lagi kalau bukan Si Pesek, yang selalu mengalah dari Mbak Ika. Pesek selalu diam dan menerima kejailan Mbak Ika. Kejailan itu nggak pernah dibalas oleh Pesek. Justru Pesek menganggap itu bentuk kasih sayang Mbak Ika terhadapnya, walaupun tiap hari dia harus menangis. Kebersamaan inilah yang sampai sekarang masih tersimpan di memori Pesek, bahkan tak akan terlupakan. Pelajarilah dan terapkan kisah dari cicak yang terjebak diantara ruang kosong karena kakinya melekat pada sebuah surat selama 10 tahun. Apa yang Anda pikirkan? Apa yang terjadi pada cicak? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama itu? Dalam keadaan gelap tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tak masuk akal. Coba Anda pikirkan, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu? Bagaimana dia makan? Ternyata setelah  memperhatikan cicak itu. Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Ternyata dating seekor cicak lain dengan makanan di mulutnya…….(Subhanallah). Sungguh ini sebuah sayang, dan cinta yang indah. Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tak pernah menyerah dan tak pernah berhenti memperhatikan sesamanya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan sekecil itu dapat memiliki karunia begitu mengagumkan.
Banyak sekali kisah yang memberikan kita tentang pelajaran berharga dan perubahan dalam diri kita. Allah Yang Mahakuasa pun memberikan pelajaran mengenai sebua proses melalui fenomena penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Sesungguhnya Tuhan Kamu ialah Allah Yang Menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seoarang pun yang akan member syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikin itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Yunus: 3). Begitu indahnya Allah menggambarkan proses penciptaan langit dan bumi. Pelajaran berharga bagi kita bahwa semuanya butuh yang namanya proses. Begitu juga dengan proses perubahan diri kita menjadi pribadi yang baik. Tentu di sana ada banyak ‘godaan’ yang mengajak kita untuk kembali ke jalan yang sesat. Namun, tak usah risau karena begitulah sunatullah sebuah perubahan. Bukankah Rasulullah yang terkenal dengan kejujuran di seluruh jazirah Arab pada masa itu hingga saat ini dikenal dengan predikat ‘ Al- Amin’ di caci dan dilecehkan saat mendakwahkan Islam, bahkan oleh saudara terdekatnya sendiri. Nikmatilah fitrah perubahan tersebut. Ingatlah kata-kata bijak ini “para pemimpin visioner awalnya dicaci dan dibenci, seiring waktu ialah yang diikuti dan dirindukan” (inspirasi dari Setia Furqon Kholid).
Seiring berjalannya waktu, Pesek tumbuh dan berkembang dengan baik. Walaupun tak sepenuhnya merasakan kasih sayang Mom sepanjang hari. Tetapi Mom selalu mendoakan Pesek supaya kelak bisa membuktikan bahwa Pesek bisa jadi orang yang disegani dan jadi teladan buat generasi di desa. Oleh karena itu, Mom bekerja memeras keringat demi Pesek dan Mas serta membantu Ayah. Pesek genap berusia 4 tahun, 13 Juni 1994. Setiap pertambahan usia atau ultah tak ada yang dirayakan layaknya anak-anak saat ini. Perayaan ultah dengan tradisi tiup lilin dan potong kue, nggak pernah dirasakan Pesek. Gimana mampu beli kue, buat hidup sehari-hari ada yang bisa ditabung itu sudah Alhamdulillah. Tak meniup lilin, tak potong kue, dan bahkan tak dapat kado bukan masalah yang besar untuk Pesek. Diusianya yang ke -4 ini dia sudah mulai bisa menulis angka dan huruf abjad. Selain itu dia sudah bisa makan dan minum sendiri serta mandi sendiri. Empat tahun merupakan usia anak yang lagi gemar main-main, justru Pesek menunjukkan hal yang berbeda, dia lebih suka berlatih menulis dengan kreweng (pecahan genting) di setiap gedeg rumah (dinding kayu) yang dicat putih.  Keasikkan menulis di gedeg sampai dia tak sadar bahwa itu hal yang salah. Perbuatan Pesek diketahui Ayah, dan beliau memarahi Pesek. Di sisi lain, Mom juga mengetahu hal itu sepulang berdagang, tetapi Mom menunjukkan ekspresi yang berbeda dengan Ayah. Mom berkata “ bagus Nak, kamu sudah bisa menulis, minta diajarin sama Mas besok-besok biar cepet bisa”.
Hobby Pesek menulis, menggugah Mas untuk mengajari dia menulis dan membaca. Mas memberikannya buku tulis bekas dan pensil kecil sepanjang jari kelingking. Pesek seneng kegirangan sambil melompat-lompat di depan Mas. Mulailah pesek mencorat-coret buku itu, dan Mas mengarahkan supaya mengikuti apa yang Mas ajarkan. Pesek dan Mas adalah contoh adik kakak yang jarang bertengkar bahkan bisa dihitung jari kapan mereka bertengkar. Walaupun demikian, Mas selalu mengajarkan kemandirian kepada Pesek. Mulai dari hal- hal kecil seperti tidak boleh cengeng, dan tak boleh minta gendong- gendong lagi. Hal seperti ini jarang Pesek dapatkan sebelumnya. Karena keadaan Mas yang tak selalu pulang ke rumah, Mas harus menemani nenek setiap hari. Sehingga kebersamaan mereka suatu moment yang selalu dinanti Pesek. Akan tetapi kondisinya tak seperti yang Pesek harapkan sebagai seorang adik. Hal sepele seperti itu justru menjadi harapan anak kecil.
Segala sesuatu yang dinilai sepele, justru yang harus kita lakukan dalam menggapai pencapaian yang besar. Mulailah dengan hal kecil karena hal kecil itulah yang mampu membuat pencapaian terbesar. Semua  bisa digapai dan justru dengan inilah terdapat seluruh indahnya keberhasilan sejati. Jangan berhenti, bertumbuhlah, belajarlah, dan kembangkanlah pencapaian kamu. Sukses bukan dicapai oleh orang yang memulai dengan hal yang besar tetapi oleh orang yang memelihara momentumnya dalam waktu cukup panjang, hingga pekerjaannya menjadi karya besar. Hitung setiap hari, hitung setiap saat, segalanya dapat berpihak pada kita atau berpihak melawan kita. Kemana kita akan bergerak? Hal kecil apa yang dapat Anda kerjakan sekarang? Segala pencapaian mencengangkan yang mungkin dapat dicapai, dimulai lewat sebuah ide. Peliharalah dan kembangkanlah hingga menjadi kenyataan. Sekarang mungkin hal kecil tetapi hanya Anda yang bisa membuatnya menjadi besar.
Selayaknya Pesek yang mencoret-coret gedeg dengan tujuan belajar menulis, akan tetapi hal itu merupakan arti sebuah tujuan. Apa pun yang kita kerjakan dan kita jalani harus punya tujuan yang jelas supaya tak tersesat kelak. Bayangkan Anda saat ini berada di tengah samudera di atas speedboat. Lima puluh kilometer di depan Anda adalah sebuah pulau dan di pulau itu terdapat semua yang Anda inginkan dan cita-citakan. Semua impian ada, dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah sampai ke pulau itu, tepatnya di belakang cakrawala. Tapi cakrawala yang mana? Masalahnya adalah Anda tidak punya kompas, peta, radio telepon, dan Anda tidak tahu arah ke pulau itu. Arah yang salah akan membawa Anda melenceng jauh dari pulau impian. Sementara disekeliling Anda yang terlihat hanya laut dan langit. Dalam dua jam Anda bisa saja sampai pulau impian tetapi bila Anda salah Anda bisa kehabisan bahan bakar sebelum mencapai pulau impian. “ Hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa mengetahui dan mengerti arah hidup” seperti kata bijak ‘ saya melihat orang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikitpun. Tapi pada pukulan ke seratus satu kali batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan yang terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya. ( Jacob Riis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar