CHAPTER 2
TEKA-TEKI, SUNTIKAN SAYANG, DAN HARAPAN ME
DIUSIA 4 TAHUN
Dua tahun bersama Simbah dan Budhe (yang
dipanggil Mak Tuti oleh Pesek sampai sekarang) Pesek tumbuh menjadi batita yang
lucu, punya rasa keingintahuan yang tinggi dan pintar. Hal ini terlihat dari
kemampuan Pesek dalam cara ngomong, cara bertingkah, dan cara merespon sesuatu.
Banyak keingintahuan Pesek yang masih
menjadi teka-teki dalam pikirannya. Salah satunya, rasa ingin tahu “kenapa dia
hanya bisa bersama Mom di malam hari saja dan kenapa sering di panggil Pesek
oleh orang-orang”. Teka- teki yang belum terjawab oleh siapa pun. Karena dalam
sehariannya Pesek bersama Mak Tuti, Pesek pasti akan meminta jawaban dari
teka-tekinya kepada Mak Tuti. Sebagai salah satu sosok pengganti Mom, Mak Tuti
harus menjawab dan menjelaskan beberapa teka-teki Pesek. Mak Tuti berusaha membuka teka-teki sekaligus
sebagai jawaban yang mendidik untuk Pesek. Satu per satu jawaban diberikan
“kenapa Pesek hanya bersama Mom malam hari karena Mom mencari uang untuk biaya
hidup dan menabung untuk persiapan biaya sekolah kamu Nak”. “kenapa orang-orang
memanggil kamu Pesek karena hidung kamu Nak, hidung kamu yang membuat mereka
memanggil kamu seperti itu, jangan bersedih Nak, jadikanlah semua itu panggilan
sayang dari orang-orang”. Mereka bukan mengejek kamu Nak, buktikan ke mereka
Nak suatu saat nanti mereka akan membiracakan kamu bukan karena hidung kamu
lagi tetapi karena kepandaianmu dan keberhasilanmu membanggakan Mom dan sesama,
tegas Mak Tuti.
Salah
satu suntikan sayang Pesek adalah kasih sayang dari orang-orang terdekatnya
saat itu. Orang- orang yang berhasil memberikan suntikan sayang pada Pesek
adalah Mak Tuti, Simbah, dan Mbak Ika. Mengapa harus suntikan sayang?
Karena merekalah yang merawat, menemani
serta menjaga Pesek. Mak Tuti mendidik dengan penuh kasih sayang seperti anak
sendiri. Karena waktu itu Mak Tuti juga punya anak kecil, umurnya setahun lebih
tua dari Pesek, anak perempuan Mak Tuti bernama Ika. Mbak Ika lebih tepatnya
panggilan dari Pesek, Simbah dan Mak Tuti selalu memberikan kita sesuatu yang
sama, mulai dari baju dan potongan rambut. Tak heran banyak yang menyebut kita
anak kembar, padahal jauh berbeda. Apalah artinya perbedaan dibandingkan dengan
banyaknya persamaan. Bukankah kita sama-sama membutuhkan sesuap nasi tanak dan
seteguk air segar dan ASI demi memenuhi lapar dan dahaga?. Kita juga sama-sama
menangis di kala sedih dan tertawa di saat gembira. Kita sama-sama gemetar
sewaktu ketakutan melanda serta tergelak ketika kegembebiraan menerpa. Kita
sama - sama berkeringat di bawah terik matahari dan menggigil di kala dingin
menelan. Tidakkah kita melihat begitu banyak persamaan di antara kita.
Si
kembar (Pesek dan Mbak Ika) setiap hari bermain bersama. Walaupun mereka bukan
saudara kandung, mereka begitu akrab. Saking akrabnya Pesek selalu jadi bulian
Mbak Ika. Hampir tiap hari terdengar suara tangisan, tahukah tangisan siapa?
Siapa lagi kalau bukan Si Pesek, yang selalu mengalah dari Mbak Ika. Pesek
selalu diam dan menerima kejailan Mbak Ika. Kejailan itu nggak pernah dibalas
oleh Pesek. Justru Pesek menganggap itu bentuk kasih sayang Mbak Ika
terhadapnya, walaupun tiap hari dia harus menangis. Kebersamaan inilah yang
sampai sekarang masih tersimpan di memori Pesek, bahkan tak akan terlupakan.
Pelajarilah dan terapkan kisah dari cicak yang terjebak diantara ruang kosong
karena kakinya melekat pada sebuah surat selama 10 tahun. Apa yang Anda pikirkan?
Apa yang terjadi pada cicak? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi
terperangkap selama itu? Dalam keadaan gelap tanpa bergerak sedikit pun, itu
adalah sesuatu yang mustahil dan tak masuk akal. Coba Anda pikirkan, bagaimana
cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya
sejak kakinya melekat pada surat itu? Bagaimana dia makan? Ternyata
setelah memperhatikan cicak itu. Apa
yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Ternyata dating
seekor cicak lain dengan makanan di mulutnya…….(Subhanallah). Sungguh ini
sebuah sayang, dan cinta yang indah. Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan,
cicak itu tak pernah menyerah dan tak pernah berhenti memperhatikan sesamanya
selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan sekecil itu dapat memiliki karunia
begitu mengagumkan.
Banyak
sekali kisah yang memberikan kita tentang pelajaran berharga dan perubahan
dalam diri kita. Allah Yang Mahakuasa pun memberikan pelajaran mengenai sebua
proses melalui fenomena penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Sesungguhnya Tuhan Kamu ialah Allah Yang
Menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy
untuk mengatur segala urusan. Tiada seoarang pun yang akan member syafaat
kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikin itulah Allah, Tuhan kamu, maka
sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Yunus: 3). Begitu
indahnya Allah menggambarkan proses penciptaan langit dan bumi. Pelajaran
berharga bagi kita bahwa semuanya butuh yang namanya proses. Begitu juga dengan
proses perubahan diri kita menjadi pribadi yang baik. Tentu di sana ada banyak
‘godaan’ yang mengajak kita untuk kembali ke jalan yang sesat. Namun, tak usah
risau karena begitulah sunatullah sebuah perubahan. Bukankah Rasulullah yang
terkenal dengan kejujuran di seluruh jazirah Arab pada masa itu hingga saat ini
dikenal dengan predikat ‘ Al- Amin’ di caci dan dilecehkan saat mendakwahkan
Islam, bahkan oleh saudara terdekatnya sendiri. Nikmatilah fitrah perubahan
tersebut. Ingatlah kata-kata bijak ini “para pemimpin visioner awalnya dicaci dan dibenci,
seiring waktu ialah yang diikuti dan dirindukan” (inspirasi dari Setia
Furqon Kholid).
Seiring
berjalannya waktu, Pesek tumbuh dan berkembang dengan baik. Walaupun tak sepenuhnya
merasakan kasih sayang Mom sepanjang hari. Tetapi Mom selalu mendoakan Pesek
supaya kelak bisa membuktikan bahwa Pesek bisa jadi orang yang disegani dan
jadi teladan buat generasi di desa. Oleh karena itu, Mom bekerja memeras
keringat demi Pesek dan Mas serta membantu Ayah. Pesek genap berusia 4 tahun,
13 Juni 1994. Setiap pertambahan usia atau ultah tak ada yang dirayakan
layaknya anak-anak saat ini. Perayaan ultah dengan tradisi tiup lilin dan
potong kue, nggak pernah dirasakan Pesek. Gimana mampu beli kue, buat hidup
sehari-hari ada yang bisa ditabung itu sudah Alhamdulillah. Tak meniup lilin,
tak potong kue, dan bahkan tak dapat kado bukan masalah yang besar untuk Pesek.
Diusianya yang ke -4 ini dia sudah mulai bisa menulis angka dan huruf abjad.
Selain itu dia sudah bisa makan dan minum sendiri serta mandi sendiri. Empat
tahun merupakan usia anak yang lagi gemar main-main, justru Pesek menunjukkan
hal yang berbeda, dia lebih suka berlatih menulis dengan kreweng (pecahan
genting) di setiap gedeg rumah (dinding kayu) yang dicat putih. Keasikkan menulis di gedeg sampai dia tak
sadar bahwa itu hal yang salah. Perbuatan Pesek diketahui Ayah, dan beliau
memarahi Pesek. Di sisi lain, Mom juga mengetahu hal itu sepulang berdagang,
tetapi Mom menunjukkan ekspresi yang berbeda dengan Ayah. Mom berkata “ bagus
Nak, kamu sudah bisa menulis, minta diajarin sama Mas besok-besok biar cepet
bisa”.
Hobby
Pesek menulis, menggugah Mas untuk mengajari dia menulis dan membaca. Mas
memberikannya buku tulis bekas dan pensil kecil sepanjang jari kelingking.
Pesek seneng kegirangan sambil melompat-lompat di depan Mas. Mulailah pesek mencorat-coret
buku itu, dan Mas mengarahkan supaya mengikuti apa yang Mas ajarkan. Pesek dan
Mas adalah contoh adik kakak yang jarang bertengkar bahkan bisa dihitung jari
kapan mereka bertengkar. Walaupun demikian, Mas selalu mengajarkan kemandirian
kepada Pesek. Mulai dari hal- hal kecil seperti tidak boleh cengeng, dan tak
boleh minta gendong- gendong lagi. Hal seperti ini jarang Pesek dapatkan
sebelumnya. Karena keadaan Mas yang tak selalu pulang ke rumah, Mas harus menemani
nenek setiap hari. Sehingga kebersamaan mereka suatu moment yang selalu dinanti
Pesek. Akan tetapi kondisinya tak seperti yang Pesek harapkan sebagai seorang
adik. Hal sepele seperti itu justru menjadi harapan anak kecil.
Segala
sesuatu yang dinilai sepele, justru yang harus kita lakukan dalam menggapai
pencapaian yang besar. Mulailah dengan hal kecil karena hal kecil itulah yang
mampu membuat pencapaian terbesar. Semua
bisa digapai dan justru dengan inilah terdapat seluruh indahnya
keberhasilan sejati. Jangan berhenti, bertumbuhlah, belajarlah, dan
kembangkanlah pencapaian kamu. Sukses bukan dicapai oleh orang yang memulai
dengan hal yang besar tetapi oleh orang yang memelihara momentumnya dalam waktu
cukup panjang, hingga pekerjaannya menjadi karya besar. Hitung setiap hari,
hitung setiap saat, segalanya dapat berpihak pada kita atau berpihak melawan
kita. Kemana kita akan bergerak? Hal kecil apa yang dapat Anda kerjakan
sekarang? Segala pencapaian mencengangkan yang mungkin dapat dicapai, dimulai
lewat sebuah ide. Peliharalah dan kembangkanlah hingga menjadi kenyataan.
Sekarang mungkin hal kecil tetapi hanya Anda yang bisa membuatnya menjadi
besar.
Selayaknya Pesek yang
mencoret-coret gedeg dengan tujuan belajar menulis, akan tetapi hal itu
merupakan arti sebuah tujuan. Apa pun yang kita kerjakan dan kita jalani harus
punya tujuan yang jelas supaya tak tersesat kelak. Bayangkan Anda saat ini
berada di tengah samudera di atas speedboat. Lima puluh kilometer di depan Anda
adalah sebuah pulau dan di pulau itu terdapat semua yang Anda inginkan dan
cita-citakan. Semua impian ada, dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya
adalah sampai ke pulau itu, tepatnya di belakang cakrawala. Tapi cakrawala yang
mana? Masalahnya adalah Anda tidak punya kompas, peta, radio telepon, dan Anda
tidak tahu arah ke pulau itu. Arah yang salah akan membawa Anda melenceng jauh
dari pulau impian. Sementara disekeliling Anda yang terlihat hanya laut dan
langit. Dalam dua jam Anda bisa saja sampai pulau impian tetapi bila Anda salah
Anda bisa kehabisan bahan bakar sebelum mencapai pulau impian. “ Hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa
mengetahui dan mengerti arah hidup” seperti kata bijak ‘ saya melihat
orang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali
tanpa kelihatan retak sedikitpun. Tapi pada pukulan ke seratus satu kali batu
itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan yang terakhir itu yang
membelah batu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya. ( Jacob Riis)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar