Senin, 23 November 2015

Chapter 3

CHAPTER 3
PENCAPAIAN DAN WARNA-WARNI ME SAAT DI ELEMENTERY SCHOOL

Me atau yang dikenal dengan panggilan Pesek dari kecil, kini telah berusia 7 tahun. Diusia inilah Me mulai di panggil dengan nama aslinya yaitu Indah. Nama yang diberikan oleh Mom, sebenarnya nama lengkapnya Indah Puji Rahayu. Nama unik yang diberikan Mom dan diperoleh dari sebuah radio yang Mom dengarkan waktu itu. Acara radio yang disiarkan yaitu acara anak-anak, ketika seorang anak dipanggil untuk menyayikan lagu “KASIH IBU” oleh gurunya, “Indah Puji Rahayu ayo maju Nak”, panggil sang guru, dibarengi tepuk tangan meriah dari teman-temannya. Sejak itulah Mom menyimpan nama itu di memori Mom untuk anak ke- 2 nya nanti.  Padahal, Mom tidak tahu makna dari nama tersebut. Saat itu yang ada di benak Mom adalah anak yang di panggil Indah nantinya bisa jadi anak yang pandai seperti anak kecil di radio. “Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan tetapi hebat dalam tindakan” (Confusius)
Dibalik kekecewaan Indah berkobar semangat belajar yang tak terkalahkan.  Indah mulai masuk ke sekolah dasar, tepatnya di SDN 05 Doplang, percaya diri dan semangat belajar yang luar biasa yang dijadikan modal awal. Semangat Indah membara dan dia berjanji untuk menjadi bintang kelas. Hal ini terjadi karena kekecewaan Indah  setahun yang lalu. Indah tidak diterima di SDN tersebut dikarenakan Indah yang terlihat kecil dan mungil. Padahal, pada saat itu Indah berusia 6 tahun tetapi masih belum diperbolehkan sekolah oleh salah satu guru di SDN tersebut. Indah menangis sepulang dari pendaftaran sekolah sambil menendang-nendang gedeg rumahnya.  Ayah yang mengantar Indah mendaftar sekolah menenangkan dia “sudah Nak, nggak apa-apa sekolah tahun depan, pasti nanti Indah jadi juara kelas” kata Ayah. Indah mulai terhenti menangis sambil berkata pada Ayah “kenapa Mbak Ika dan temen-temen diterima?. Indah nanti bermain dengan siapa?, Ayah selalu ke sawah, Mom dagang”. Pada saat yang bersamaan, Mom libur berdagang karena mendarat (membantu orang yang punya hajat/acara) di rumah tetangga. Indah dianter Ayah supaya ikut Mom, sampai disana Indah kembali menangis setelah Mom bertanya diterima atau nggak. Indah dilihat oleh tetangga yang mendarat disitu, Mas Heri, anak terakhir dari yang punya hajat menertawakan Indah ketika menjawab “tidak diterima”. Mas Heri dan Mom menenangkan Indah. Mom berkata “udah Nduk jangan bersedih terus, mungkin Indah akan lebih bahagia jika sekolah tahun depan”. Begitu pula dengan Mas Heri yang mencoba menenangkan Indah, “temen-temen Indah masih banyak yang belum sekolah tahun ini, Indah tidak sendiri kok”. Akhirnya Indah tersadar dan berhenti menangis dan mulai tersenyum gembira.
Kesepian Indah ketika Mbak Ika dan temen-temen ke sekolah bukanlah masalah yang besar. Kesepian kita bukan karena tiadanya orang disekitar kita. Namun, karena tiadanya seorang di hati kita. Kita dapat kehilangan saat-saat berharga yaitu ketika kita merasa enggan untuk memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Saat mengulurkan pertolongan, tanpa sadar kita menjalin hati kita dan hati orang lain dengan dawai emas yang tak tampak. Dawai itu bernama persaudaraan. Semakin banyak kita menjalin dawai semakin jauh hati kita dari kesepian. Karena dawai-dawai itu akan mendentingkan nada-nada yang memenuhi dan menghibur jiwa. Bangkitlah dan tebarkan uluran tangan kita. Segaris senyum dan tatapan mata bersahabat cukup untuk membangunkan bahwa kita sama sekali tak sendiri.
Setahun dilalui Indah dengan membantu Ayah dan Mom mengerjakan pekerjaan rumah. Indah tiap hari pagi dan sore harus mengambil air di sungai, mencuci piring, menyapu dan membantu Ayah ngarit (mengambil rumput untuk pakan sapi). Hal –hal seperti itu yang bisa dilakukan Indah saat usia 6 tahun. Perjuangan Indah ketika mengambil air di sungai sungguh luar biasa. Indah harus menggendong jon (tempat air dari tanah liat) seberat 5 L, jalan naik turun jurang dan melewati persawahan sejauh 2 Km. Tiga sampai empat kali bolak-balik Indah lakukan setiap harinya. Di desa pada saat itu belum ada sumur. Hampir semua penduduk di desa hidup dengan air sungai.  Sekitar tahun 2000 baru ada yang namanya sumur, dan yang bisa membuatnya hanya golongan orang yang mampu. Menyapu rumah dilakukan Indah tiap pagi setelah bangun tidur, kemudian mencuci piring. Indah menyapu bukan hanya lantai yang dari tanah, tetapi juga membersihkan kandang sapi. Ngarit dikerjakan Indah dan Ayah sekitar pukul 10an setelah Ayah dari sawah.
Karena keseringan bersama Ayah di alam bebas, Indah jadi suka melihat burung-burung kutilang di persawahan. Berawal dari situ, Indah di beri Ayah anakan burung kulitang yang didapat dari pohon mangga pematang sawah. Dua ekor anakan burung kutilang dirawat Indah di rumah. Dengan penuh kasih sayang Indah memeliharanya, hingga dia tak pernah absen untuk memberi makan burung-burung itu tiga kali sehari. Tak lupa seminggu sekali Indah memandikan burung- burung itu. Suatu hari Indah pergi ngarit sendiri, ketika dia mulai menyabit rumput di depannya dia mendengar kicauan burung di atas pohon randu di dekatnya. Indah seketika menengok ke atas pohon, ternyata ada sarang burung tersebut. Suara kicauan burung itu menandakan burung itu sedang memberi makan anak-anaknya. Terlintas dipikiran Indah untuk mengambil anak burung tersebut dan merawatnya. Tak lama setelah keranjang rumput yang Indah bawa penuh rumput. Indah tak ragu untuk manjat ke pohon randu itu dan mengambil sarang burung, pastinya plus anakan burung itu. Sesampainya di rumah, anakan burung itu dimasukkan ke sangkar. Ayah mengetahuinya, dan bertanya pada dia “darimana kamu dapat anakan burung cendet itu Nak?”. “Ohhhh, cendet nama burung ini ya Yah”, Indah balik bertanya. “Makanan burung ini apa Yah?”, tanya Indah lagi. Ayah menjawab “ belalang, ulat atau kepompong Nak”. Indah langsung berlari kembali ke sawah untuk mencari belalang dan memberi makan burung cendetnya bersama burung kulitang.
Minggu merupakan hari yang selalu ditunggu Indah karena saat-saat bisa bermain bersama Mbak Ika dan temen-temen lainnya. Pagi hari Indah bersama Mbak Ika pergi ke sungai untuk mengambil air sekaligus mencuci baju di aliran sungai. Mencuci baju sekaligus bermain salto di sungai adalah salah satu kesukaan Indah masa itu. Karena keasyikan bermain, waktu sudah siang dan terdengar suara adzan dhuzur dari mushola di desa sebelah.  Indah bersama Mbak Ika dan temen-temen bergegas pulang. Di jalan menuju rumah, Indah baru teringat ternyata dari pagi burung-burungnya belum diberi makan. Sesampainya di rumah,Indah langsung melihat burung-burung di sangkar, burung kutilangnya ternyata sudah kelaparan dan terlihat lesu, Indah langsung mengambil pisang dan memberinya makan. Ternyata burung kutilangnya tidakmau menelan pisang yang diberikan, burung itu terlihat sekarat. Tak lama kemudian Indah mencari belalang untuk makanan burung cendetnya. Setengah jam kemudian dia memperoleh belalang dan langsung pulang ke rumah. Indah kaget karena cendet dan kutilangnya mati satu. Indah langsung meneteskan air mata, dan mulai menguburnya di samping rumah. Indah menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Indah berdoa “semoga Allah membimbingku ke jalan yang benar”. Amin. Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang kita lalui?. Allah memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya Allah sedang menguji setiap hamba-NYa yang sholeh. (adapted from Irfan-seeds)
Kelas 1 di SDN 05 Doplang yang Indah jalani saat ini sekaligus perdana merasakan bangku sekolah. Sebelumnya Indah tidak merasakan sekolah TK, karena tidak ada biaya. Seragam merah putih, sepatu baru, buku baru, dan tas bekas dari Masnya yang menemani Indah melangkah ke sekolah. Walaupun tidak semuanya baru, Indah tetap semangat pergi ke sekolah untuk mencari ilmu dalam menggapai cita-cita terbesar. Karena dalam sebuah perjalanan hidup, cita-cita terbesar adalah menuju kesempurnaan. Ada kalanya kita mesti berjuang serta belajar menyikapi segala rahasia dalam kehidupan. Perjalanan menuju kesempurnaan adalah proses yang menentukan setiap tapak langkah kita. Setiap hembusan nafas, detak jantung, dari siang menuju malam. Semua menuju titik yang sama, kesempurnaan. Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan iman. Dengan cinta hidup menjadi indah. Dengan ilmu hidup menjadi mudah. Dengan iman hidup menjadi terarah.  Semua itu dilalui Indah dengan rasa riang gembira yang menyelimuti hati Indah selama sekolah. Selain ilmu yang dia dapatkan, Indah juga punya banyak teman. Hal ini berkat dukungan dan doa Mom. Seperti kata bijak “ Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata IBU dan panggilan yang paling indah adalah IBUKU. Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati”. (Kahlil Gibran)
Di sekolah, Indah dikenal pendiam, dan suka membaca buku. Dia minder dengan teman-temannya yang banyak uang saku sehingga dia lebih sering membaca daripada jajan di jam istirahat. Anti temen sebangku Indah dan juga temen sekampungnya selalu mengikuti Indah.  Jarang jajan di sekolah dan malah Indah sudah terbiasa nyelengi (menabung di celengan). Uang saku yang cuma 300 rupiah, dia tabung di celengan kendi dari tanah liat. Dengan rasa syukur Indah melakukan segala sesuatu termasuk menahan keinginan jajan demi menabung. Indah akan selalu membantu Mom, dia mencoba meringankan beban Mom dan Ayah. Selain dengan menabung, Indah berangkat dan pulang sekolah jalan kaki sejauh 3 Km. Semua terasa ringan bagi Indah karena dia menjalani dengan ikhlas dan bersyukur seperti yang diajarkan Mom. Bersyukur mendorong kita untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup kita selain bersyukur. Semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak kita menerima. Semakin banyak kita mengingkari semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri kita. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya karena kita takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah.
Suatu hari sebelum Indah berangkat ke sekolah, beberapa pekerejaan harus Indah selesaikan terlebih dahulu. Pekerjaan yang dikerjakan antara lain: menyapu, memcuci piring dan mengambil air di sungai. Setelah semua terselesaikan Indah siap-siap untuk pergi kesekolah, terbayangkah di benak kalian?. Anak seusia Indah harus berjuang demi meraih mimpi-mimpinya. Tak sedikitpun dia merasa letih dan mengeluh dalam menjalani hari-harinya. Indah selalu menerapkan bahwa setiap gerakan yang kita lakukan demi kebaikan dan tidak merugikan pihak lain suatu saat akan membuahkan hasil, jika dikerjakan dengan ikhlas dan bersyukur. Seperti halnya hukum sebab akibat: setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan- potongan mozaik terserak disana-sini. Tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang, namun ia akan bersatu perlahan-lahan, membangun siapa diri kita. Lalu apapun yang kita kerjakan dalam hidup ini akan bergema dalam keabadian [……..] (sang pemimpi, Andrea Hirata).
   Hari demi hari terlalui begitu cepat, tak terasa sudah cawu pertama (catur wulan ) di kelas 1. Persiapan untuk menghadapi ujian cawu pertama pun Indah lakukan dengan tekun belajar. Ketekunan belajar telah Indah miliki sejak kecil, tak hanya belajar, beribadah, menabung dan bekerja juga terlihat dalam diri Indah.  Di cawu pertama Indah menyelesaikan ujian dengan baik. Ketekunan dalam belajarnya, membuahkan hasil, Indah memperoleh peringkat 2 di kelas. Peringkat 1 diraih oleh Sumian yang tanggal lahirnya bertepatan dengan Indah. Perasaan Indah seneng tetapi dia belum puas dengan prestasi yang dia raih. Indah harus rajin belajar lagi supaya dapat meraih peringkat 1. Catur wulan berikutnya dan untuk seterusnya sampai di kelas 6 Indah bisa jadi juara 1. Hal ini tidak mungkin Indah dapat tanpa usaha dan doa. Sebenarnya Indah bukan cerdas tetapi dia tekun.
Ketekunan Indah membawa perubahan dalam keluarganya terutama Ayah dan Mom. Beribadah adalah tugas utama manusia di ciptakan. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Q.S. Az-Zariyat:56). Ayah dan Mom yang dari dulu tidak pernah sholat lima waktu, sekarang sudah dijalankan. Walaupun kadang ada yang lupa, Indah memahaminya karena semua itu perlu proses. Usaha Indah untuk memperbaiki kehidupan keluarga memang tidak semudah yang kita bayangkan. Tetapi Indah tak pernah menyerah, setiap hari dia tekun mengajari Ayah dan Mom hafalan dalam sholat. Mereka lemah dalam membaca tulisan arab sehingga Indah harus menulis dalam tulisan latin Indonesia supaya dihafalkan oleh Ayah dan Mom. Ilmu yang Indah dapat selama mengikuti ngaji (belajar agama) di mushola deket rumah dan di masjid desa Klatak ternyata tak sia-sia. Ngaji adalah rutinitas yang dilakukan Indah setiap sore di masjid desa Klatak dan setiap habis magrib di mushola deket rumah Indah. Dari ketekunannya mengikuti ngaji inilah dia bisa membawa Ayah dan Mom menjadi lebih baik.
Ketekunan adalah kekuatan Anda (inspirasi tokoh-tokoh komik dunia). Apa yang Anda raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan terus menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda maka anda harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Anda harus tetap mengambil langkah selanjutnya. Jangan hanya berhenti di langkah pertama. Memang semakin jauh anda berjalan, semakin banyak rintangan yang menghadang. Bayangkan andai saja kemarin anda berhenti, maka anda tidak berada di sini sekarang. Setiap langkah menaikkan nilai diri anda. Apa pun yang anda lakukan jangan sampai kehilangan ketekunan anda. Karena ketekunan adalah daya tahan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar